Blog

Saya mau kuliah apa? – Study what makes you happy!

Study

Saya mau kuliah apa? – Study what makes you happy!

Saya mau kuliah apa? – Study what makes you happy!

Sejak kecil kita selalu ditanya oleh orang tua : cita-cita kamu apa? jawaban anak-anak biasanya : saya mau jadi pilot, jadi dokter, jadi polisi, jadi pengusaha, dll. Saya sekarang kalau ingat pertanyaan tersebut, hanya bisa tersenyum di dalam hati, bagaimana seorang anak kecil bisa menjawab, kelak dia mau menjadi apa. Tentu saja mereka tidak bisa menjawabnya dan asal2an. Tapi itu lumrah,  karena mereka belum pernah mengalaminya, bagaimana menjadi seorang pilot, dokter dll.

Yang lebih lucu lagi, kalau si anak  tidak tahu jawabannya? Ada juga orang tua, langsung mengambil inisiatif untuk anaknya, nak, kamu bisa jadi ini, jadi itu. Lalu kalau si anak bertanya: kenapa? Orang tua berusaha memberikan alasan yang menurut pendapat mereka, pekerjaan/ profesi tersebut bisa menghasilkan uang. Jarang sekali orang tua menjawab: “Dengarkan panggilan hati nuranimu nak”.

Jadi image dari kecil seorang anak sampai dewasa adalah saya harus menjadi sesuatu atau menentukan pekerjaan dulu, bukan mendengar panggilan hati nurani, tapi mendengar apa keinginan orang tua kita. Sedih sekali bukan?

Topik blog kali ini memang sulit dan berat untuk calon mahasiswa yang belum tahu mau, mau mengambil kuliah apa setelah selesai SMA. Bahkan banyak yang masih bingung mau kerja di bidang apa setelah selesai kuliah. Saya selalu mendapatkan pertanyaan ini dari calon mahasiswa dan mereka mengakui kalau mereka masih bingung dan bimbang. Mereka dituntut, suatu saat bisa mandiri alias berpenghasilan tinggi dan tidak menjadi parasit lagi bagi orang tua. Alhasil, pertanyaan ini menjadi beban berat untuk calon mahasiswa : saya HARUS kuliah, saya HARUS berhasil lulus kuliah, saya HARUS bekerja, saya HARUS berpenghasilan tinggi, dstnya. Semua keharusan-keharusan tersebut tentu saja tidak bisa terwujudkan kalau kita tidak mengenali jawaban di pangkal pertanyaan yaitu : “Kuliah / Pekerjaan apa yang cocok untuk saya, sehingga saya bisa menjalani kehidupan saya nantinya dengan sukacita, mudah, dan bahagia?”

Banyak orang menjawabnya pertanyaan tersebut dengan motto hidup : SAYA HARUS KULIAH SESUATU YG NANTINYA BISA MENGHASILKAN BANYAK UANG . Akhirnya mereka google : Die besten Studiengänge für ein hohes Einstiegsgehalt (artinya : Kuliah terbaik dengan gaji yang tinggi) . Hasilnya: Kedokteran,Jura, IT, etc… , padahal itu bukan passionnya.

Apa itu passion? Passion adalah kecenderungan atau keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang ia suka dan semangati, dan itu biasanya sudah terbawa dari lahir, dan pemberian (anugrah) dari Tuhan. Untuk mengetahui apa passion kita, adalah dengan bertanya : Apakah saya bersemangat saat melakukan kegiatan tersebut, berbahagia sampai lupa waktu kalau mengerjakannya. Mengerjakan sesuatu bukan dengan panggilan hati yang paling dalam dan tidak ceria ketika mengerjakannya , akan menyiksa jiwa dan seterusnya raga kita, dimulai dari burn out, putus asa dan akhirnya sakit2an. Dan ini sangat fatal dan menyedihkan kalau perjalanan hidup kita harus dijalani dengan rasa tersiksa. 

Saya sendiri sudah mengalaminya di tahun 1992, ketika saya ingin kuliah setelah selesai tamat SMA. Saya mengambil kuliah Teknik Sipil, tanpa bertanya sedalam-dalamnya di lubuk hati yang paling dalam, benarkah ini pilihan yang tepat? Alasan saya waktu itu mengambil Teknik Sipil karena Papa saya dulu seorang kontraktor, dan sebagai anak kesayangan, saya ingin menyenangkan hatinya, dengan mengambil jurusan ini, dengan harapan saya bisa membantu pekerjaannya dia. Setelah selesai kuliah, apa yang terjadi? Papa saya membanting setir, dari seorang kontraktor menjadi pedagang kayu di Sumatra dan meninggalkan saya dengan gelar Sipil di Jakarta. Selama 5 tahun saya menghabiskan waktu belajar sekeras mungkin, untuk lulus dan mendapatkan gelar Insinyur. Selama menjalani kuliah, saya tidak suka dengan Ilmu Baja, Beton, Mechanical Tehnik,dll. Satu2nya mata kuliah yang paling saya suka adalah  Management Construction, yg hanya 5% dari seluruh mata kuliah. Jadi 5 tahun ilmu yang menempel di kepala saya sampai saat ini adalah bagaimana saya merencanakan dan mengestimasikan sebuat proyek dari awal sampai akhir, dan rumus abadi gaya: F1=F2. Namun, saya tidak menyesali pilihan tersebut, karena banyak sekali kenangan indah selama kuliah bersama teman-teman  di pelataran Teknik Sipil. Setelah selesai kuliah saya langsung terjun bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang untungnya saya boleh bekerja di bidang estimasi bangunan, tidak harus turun ke lapangan, menghitung kekuatan bangunan dll. Tapi tetap saja, estimasi bangunan bukan passion saya. Sehingga saya memutuskan untuk tidak mau melanjutkan S2 di Teknik Sipil di Jerman walaupun kemungkinan tersebut ada. Dan saya membanting jurusan ke Economic for Engineering di bidang Logistik dan Controlling, dan harus mulai dari awal lagi, karena bidang yang saya mau pelajari tidak ada hubungannya dengan ilmu teknik sipil yang saya bawa dari Indonesia. 

Oleh sebab itu blog ini saya tulis, supaya kalian jangan sampai memilih sesuatu yang bukan berasal dari passion kalian ataupun karena alasan orang tua atau karena si A si B bilang ini dan itu. Tentu saja boleh meminta pandangan mereka , tetapi  kita sebaiknya  mengambil waktu yang cukup untuk menganalisa kepribadian kita sedalam2nya, sebelum memutuskannya. 

Kalau alasan saya kuliah karena mau mendapatkan UANG BANYAK… percayalah, jawabannya bukan memilih kuliah  yang menjanjikan pekerjaan dengan gaji paling tinggi. Tetapi adalah belajar cara melipatgandakan uang (misalnya belajar menabung, berinvestasi sedini mungkin,dan cash flow). Untuk belajar cara melipatgandakan uang, kita tidak perlu kuliah capek2 sampai keriting, mempelajari sesuatu yang bukan passion kita. Menurut saya, kita hanya perlu belajar dari orang yang sudah lebih dari sukses dari kita, lebih kaya dari kita, dan belajar bagaimana mereka MAKE MONEY, misalnya Warren Buffet, ataupun mencari Money Coach seperti  Robert Kiyosaki, Bodo Schäfer, yang memiliki metode dan sistem ampuh bagaimana memperbanyak uang.  

 

Back to the root blog ini, lalu bagaimana caranya menemukan jurusan yang saya inginkan dan memutuskan untuk mengambil “Study what makes me happy?” Jawabannya adalah mengikuti panggilan hati nurani (Berufung folgen), bukan menentukan saya mau menjadi apa (was ist mein Beruf). Bagaimana caranya mengikuti panggilan hati nurani kita?

Saya ingin kalian mengambil waktu sejenak dan selembar kertas kosong. Diatas kertas kosong itu kalian bagi 2 kolom. Kolom sebelah KIRI diberikan judul : “Saya paling jago atau trampil mengerjakan hal2 ini” , kolom sebelah KANAN diberikan judul “Saya paling senang atau berbahagia kalau mengerjakan hal2 ini“. Lalu kalian tulis dibawah judul tersebut masing2 TOP 5 ketrampilan (Fähigkeiten) kamu, dan TOP 5 Happiness (Freude). Untuk menjabarkan ini, ambillah waktu berpikir yang tenang untuk mendengar hati nurani kalian yang paling dalam. 

Setelah menemukan jawaban tersebut, cobalah mengajukan pertanyaan terakhir : “Di bidang apa, di sektor apa, di pekerjaan apa, yang tersedia di MARKET sekarang ini, yang memberikan kesempatan kepada saya untuk mengerjakan apa yang paling saya SUKAI dan bisa membangun Skill / ketrampilan saya, supaya saya bisa menjadi EXPERT dibidang tersebut. Dengan menjadi seorang EXPERT , kita akan semakin bersemangat,  berkarya dengan talent yang Tuhan sudah berikan kepada kita, membangun kepribadian yang kuat, berguna untuk keluarga dan masyarakat di sekiling kita. Kalau kita bisa menemukan BERUFUNG kita, percayalah dalam menjalani kuliah ataupun pekerjaan kedepannya, kita akan selalu bersuka cita dan tidak ada tekanan batin karena kita telah mengikuti panggilan hidup dan hati nurani kita yang paling dalam. Saya yakin kalau kita menemukan jawabannya, kita akan menjadi orang yang berarti dan berbahagia untuk dunia ini. Silahkan mencoba methode ini.

Erfolg ist …

Wenn Du deine Bestimmung folgst!

Dieter Lange

Free 10 Days

Master Course Invest On Self Now

Subscribe & Get Your Bonus!
Your infomation will never be shared with any third party